Hujan ...
rinaimu membasahi bumiku ... napasmu bergemuruh bersama kencangnya hembusan angin
disini aku berpuisi ... melukiskan rasa rindu dan cintaku untuk dia ...
sebatas melukiskan rindu bersama tuts keybord laptopku ... mencoba merangkai kata
sampai nanti terbentuk kalungan kasih bernada lembut menghantarkanku dalam buaian
Hujan ...
Kini engkau telah berhenti .. tak ada lagi gemuruh napasmu yang berpacu dengan hembusan bayu
tapi aku masih asik menikmati rasaku ... ya .. rasaku untuk kekasih hati pujaan kalbu
Aku termangu ... dibelai rasa rindu
Hujan ...
Seumpama dia sepertimu .. maka segarnya wangi tanah yang terguyur olehmu membangkitkan gairah hidupku
Memberiku energi baru hadapi kejamnya rasa sakit yang menderaku ...
Ah .. rasa sakit yang selalu kusyukuri meski kadang tangis pilu menyertai rintihan
Hujan ...
Seringnya kutemui prasangka yang tenggelam oleh ketulusan ...
terbawa oleh aliran kerinduan bermuara pada keyakinan ..
Aku sepertinya terjebak dalam pusaran kebingungan
Hujan ...
Andai aja aku diberi kesempatan terlahir lagi ...
Sungguh aku ingin terlahir menjadi sosok yang berarti ...
Tidak dalam keadaan yang begini
Tapi ...
Pantaskah aku punya keinginan seperti itu ???
Tidakkah aku sebaiknya memperbaiki diri tuk menjadi sosok yang berarti tadi???
Ntahlah ... masih masih tergugu ..
Hujan ...
Untuk kali ini ... biarlah aku saja yang menjadi sepertimu ..
Menjadi rintik-rintik yang mewarnai siang dalam terang ..
Sehingga tercipta pelangi yang mempesona tiap pandangan
Hujan .. cinta .. pelangi ... dan rindu
Rona-rona itu menyatu .. betapa indahnya
Laksana butiran-butiran salju
Bersahaja mewakili ungkapan cinta nan biru
Hujan ... hentimu membawaku pada akhir khayalan
Bait-bait ini kupersembahkan untuk cinta yang kan selalu kugenggam
bukan dalam genggam tangan ..
tapi genggam kepercayaan dan kesungguhan
Sebentar pun akan kujalani ...










